Ini jalan hidupku dan aku menikmatinya. Aku ceria bagai warna yang tak kan pudar. Slalu berlari mengejar semua khayal dan anganku. Satu hari bernafas dengan cinta dan berlatih untuk selalu berharap. Banyak teman yang menyumbang banyak bahagia untukku dan kumiliki dua sahabat yang selalu terjatuh dan terbangun bersamaku. Aku hadir di tengah keluarga yang selalu diselimuti kasih sayang dan selalu memberi kehangatan. Masa remajaku tak jenuh tuk selalu kujulani. Belajar untuk selalu berkarya dan berkarya untuk selalu memberi yang terbaik. Layaknya anak lain seusiaku yang sedang mencari jati diri, aku pun terus berlari tuk menemukan pribadiku yang sebenarnya. Dunia belajarku tak kubatasi dan inspirasiku terus kugali hingga dalam yang tak terukur. Kini aku duduk di kelas 2 SMA, bersekolah di sekolah favorit memang membuatku terbeban untuk memikul segala tuntutan. Persaingan yang kuhadapi terus mengacuku untuk selalu melaju kedepan. Tak henti aku bersyukur untuk hari dan hidupku. Beruntunglah aku dapat menjadi diri dan jiwaku seperti sekarang ini. Aku tak pernah berjalan sendiri, tanganku selalu digandeng oleh semua teman yang selalu menemani. Kesetiaan yang selama ini kudapat dari dua sahabatku membuat kami selalu seirama dalam satu ikatan persahabatan. Perbedaaan yang terdapat dalam setiap pribadi kami membuat kami tak dapat mengelak dari setiap perdebatan yang terkadang hadir diantara kami. Kami saling melengkapi setiap kekurangan dan memberikan setiap kelebihan yang kami miliki.
Banyak orang yang berkata bahwa remaja akrab sekali dengan sesuatu yang disebut “cinta”. Aku peraya akan kekuatan cinta tersebut, dan menurutku cinta bukan hanya diberikan oleh seseorang dalam satu hubungan “berpacaran “ namun cinta juga selalu diwujudkan kepada setiap orang karena membagi cinta kepada siapapun adalah makna dari hidup ini. Dan mungkin perkataan orang itu benar, hingga aku pun merasakan getaran “cinta” tersebut. Aku sering bertanya kepada hatiku “apakah hatiku telah mengenal cinta??? “ aku rasa cinta itu mempunyai tingkatan yang sesuai dengan hidup kita, dan mungkin sekarang aku baru mengenal cinta itu pada tingkatan yang terendah sebagaimana proses kehidupan anak remaja biasanya. Dan apa namanya jika aku merasa tertarik pada pesona seorang “pria”???? Ada satu hal yang tak kurasa sebelumnya ketika kuingat senyum manis dirinya. Bertatap muka dan berbagi pandangan namun aku belum berani bertukar perasaan, karena aku tak ingin jatuh dari harapan yang terlalu tinggi akan “cinta”. Kini tambahlah jejak hidupnya yang terbekas di jalan hidupku. Dia selalu membuatku terbang melayang di awan-awan rasa suka. Mungkin ada satu benih yang tertanam dan berbuah manis di hatiku. Merasa lengkap semua kebahagiaanku semenjak hariku dihiasi oleh hadirnya.
“…………”
Suatu saat warna putih yang selalu membawa damai di hatiku berubah menjadi hitam yang menakutkan. Sebuah kejadian yang memeras kering air mataku dam memojokkanku hingga tak mampu lagi ku bergerak. “Aku difitnah….” Mereka yang telah dekat denganku selama ini ternyata mereka pulalah yang membunuhku dengan segala fitnah itu.
Aku tak mungkin melakukan itu semua……….
Aku tak mungkin menyentuh benda itu
Seumur hidupku tak pernah narkoba itu tersentuh olehku………….
Dan kini mereka memfitnahku dan menuduhku memakai narkoba…????
Apa yang salah dariku hingga mereka memfitnahku seperti ini…. Mereka ingin menghancurkan hidupku. Mungkinkah hanya karena keirian hati mereka sehingga mereka memfitnahku???
Beragam tanya ada di pikiranku, namun tak kupikirkan pertanyaan itu lebih lanjut, dan yang kini aku pikirkan adalah.. apa tanggapan orang diluar sana tentang diriku ini…….????
Berbagai anggapan negatif terlontarkan kepadaku, orang-orang ramai itu telah mengecap aku sebagai “ remaja nakal “ berita miring ini telah menyebar luas, hingga telah terdengar oleh pria itu.
Tak ada satu orang pun yang mempercayai hal ini, namun para pemfitnah itu lebih pintar dari padaku. Mereka menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat sempurna. Mereka memainkan peran mereka layaknya seorang seniman profesional. Segala bukti palsu yang telah mereka siapkan membuat tak ada seseorang pun yang berdiri untuk memihakku. “ Sahabat saling mempercayai” itulah janji persahabatan diantara aku dan dua sahabatku dan itu pulalah yang mereka lakukan kepadaku sekarang. Mereka percaya kepadaku karena mereka ada di pihakku saat kejadian itu berlangsung. Aku malu dan memang hanya rasa malulah yang kurasa sekarang, aku tak merasakan kenyamanan hidup seperti dulu lagi. “Fitnah” itu terus menghantuiku. Sebisa mungkin aku menjaga supaya berita miring ini tak terdengar oleh keluargaku. Dan sudah kukatakan bahwa para pemfitnah itu lebih pintar maka tak lama mereka pun membuat fitnah itu sampai di telinga keluargaku.
Saat aku sedang menangisi fitnah itu dikamarku, aku mendengar teriakan orangtuaku yang sangat mengejutkan seisi rumah. Ternyata benar fitnah itu tyelah memasuki rumahku. Saat aku menghampiri orangtuaku, kakakku sudah tak lagi hangat kepadaku seperti dulu. Ia mencaci makiku, aku sedih bukan karena caci makian itu namun sedih ini karena “mengapa keluargaku sendiri begitu saja percaya akan fitnah ini? Mereka tak peduli akan seemua penjelasanku, mereka telah mengenalku sejak aku kecil namun tak adakah sedikit rasa percaya yang mereka berikan kepadaku? “
Dan kudengarlah satu perkataan yang keluar dari mulut kakakku, perkataan yang sangat mengiris hatiku itu baru kali ini kudengar dari kakakku sendiri. Kakakku satu-satunya yang sangat mengasihiku pun sampai setega itu mengatakan “ lebih baik kehilangan anak yang dulu sangat disanjung tinggi oleh orang banyak karena kebaikannya daripada kehilangan nama baik keluarga yang kamu telan sendiri. Pergi kamu dari rumah ini. Jangan harap pintu akan terbuka bagi orang sepertimu dan lihat sekarang mama masuk rumah sakit hanya karena ulahmu yang memalukan itu.” Air mataku tak mampu lagi tertahan saat mendengar kata-kata usiran itu dan sakit yang kurasa lebih sakit daripada dilempar kesemak berduri. Satu lagi yang membuatku tak percaya dan merasa dunia ini sudah terbalik saat tangan kakakku menampar pipiku. Dulu tangannya selalu lembut membelaiku dengan kasih sayang dan selalu lembut mengusap air mataku disaat aku menangis, namun tak lagi usapan air mata melainkan menjatuhkan seluruh air mataku. Aku tahu dan aku merasakan rasa malu yang keluargaku rasakan saat ini. “ Ini bukan salahku….” Dan aku teringat akan prinsip hidupku sendiri yang mengatakan “ Lebih baik menanggung luka daripada membuat duka.” Mungkin sudah tak layak lagi bagiku untuk hidup ditengah-tengah kehangatan dan keceriaan yang seperti dulu lagi. Aku rela untuk mengorbankan hidupku dan mengalah untuk pergi dan menjauh. Kini aku tak tahu lagi harus kemana aku melangkah. Sebelum aku pergi menjauh aku memilih untuk pergi ke rumah sakit tempat mamaku dirawat. Aku tak berani menunjukkan diriku kedepan mamaku, aku tak mau mama semakin sengsara hanya karena aku yang tak berguna lagi. Aku hanya berdiri didepan ruang rawat mamaku dan berbisik “Ma, aku sayang mama, aku nggak mau mama sakit seperti ini, aku minta maaf ma. Andai mama tahu yang sebenarnya, ini bukan kesalahanku ma. Sekarang aku akan pergi ma, aku harap setelah kepergianku nanti mama akan lebih baik lagi dan semoga fakta dan kebenaran yang sesungguhnya akan segera mama dengar. Aku cuma korban ma.” Bisikan itu tak hanya kuucapkan dengan mulutku, namun saat itu juga air mataku ikut berbicara.
Tak perlu lagi untuk berpikir panjang, aku segera mengangkat kaki utuk pergi jauh dari kehidupan yang dulu. Aku tak membawa apapun yang berharga, karena bagiku yang berharga adalah senyuman dari mereka yang kusayang dan sekarang tak ada lagi senyuman yang kubawa, hanyalah air mata yang tak hentinya terjatuh.
Kini aku tak tahu dimana kakiku berdiri. Tempat ini sangat asing bagiku dan sekelilingku hanyalah kulihat hamparan sawah dan rumah-rumah yang kumuh. Sejak mentari masih bersinar diatas kepalaku hingga kini berganti bulan yang menerangi aku tak tahu aku ada dimana. Dahulu malam selalu memancarkan cahaya bintang kedalam kehidupanku, namun malam ini terasa begitu menakutkan bagiku. Aku berada di lorong yang sangat gelap sekarang. Aku bukanlah wanita yang lemah, tapi di malam yang dingin ini aku merasa telah rapuh untuk menelusuri lorong gelap ini. Aku ingat fitnah itu…….aku ingat perkataan kejam itu….. Aku sendiri sekarang dan aku tak tahu dimana raga dan jiwaku terpisah.
“…………….”
Sudah beberapa hari lamanya aku berada di tengah kebimbangan, aku tak bertemu dengan warna hidupku yang dulu selalu terlihat cerah. Aku kehilangan senyumku ddan aku kehilangan mereka yang kusayang. Dulu aku selalu terjatuh dan terbangun bersama kedua sahabatku, namun kini aku harus terjatuh sendiri ke jurang kehidupan yang sangat mengerikan dan tak ada satu tangan pun yang terulur untuk membantuku terangkat dari jurang ini. Aku hanya mampu berdoa dan berharap, namun terkadang harapan itu hilang dan berganti oleh keputus asaan. Aku sering berpikir “ mengapa aku tak mengakhiri semua kisahku di dunia ini?? Mungkin aku akan lebih baik jika aku berada di surga daripada di dunia ini.” Namun aku tak melanjutkan pikiran yang bodoh itu, aku lebih memilih untuk bertahan walau harus menderita.
Ingin rasanya menjerit, namun adakah telinga yang ingin mendengar jeritan dari seseorang yang terbuang seperti aku ini…??
Sejenak aku merenungi semua keindahan yang aku rasakan dulu, saat pikirku ku layangkan pada masa laluku tiba-tiba handphoneku berdering. “Siapakah yang masih peduli padaku sekarang?? Siapa yang masih mau menyempatkan waktunya untuk meneleponku??” Aku tak berani mengangkat telepon itu dan aku merasa takut akan bunyi telepon itu, aku takut jika ada seseorang yang membahas fitnah itu lagi. Beberapa kali handphoneku berbunyi, namun tetap kubiarkan dan tak ku angkat. Aku duduk dipojokkan tembok putih, aku takut mendengar suara handphone itu… Hingga penelepon diseberang sana mengirimkan pesan singkat kepadaku. Dengan penuh keraguan aku membaca pesan itu, tanganku gemetar saat ku baca pesan yang bertuliskan “ Satu kata maaf yang ingin kakak ucapkan padamu, maaf untuk semua caci maki yang kakak lontarkan kepadamu, kakak sudah tahu yang sebenarnya. Kakak menyesal tak percaya kepadamu dan kini pulanglah ade, semuanya merindukanmu. Semuanya khawatir kepadamu. Kebenaran memang ada di pihakmu.”
Rasa bahagia yang kurasakan bukanlah kursakan untuk diriku sendiri namun bahagia ini karena kebenaran itu telah terungkap juga. Aku rindu keluargaku, aku rindu teman-temanku… Dan tak mungkin bagiku untuk kembali dan pulang karena sekarang pun aku tak tahu aku dimana, dan perkataaan kejam itu telah menjadi luka yang sangat dalam di hatiku. Dan mereka pun lebih memilih untuk mengusirku demi nama baik keluarga. Aku meras tak layak lagi untuk kembali pulang, biarlah aku tetap disini sendiri dan dikejar oleh semua rasa takutku. Dengan berteteskan air mata aku membalas pesan itu “Jangan mengharapkan kepulanganku kak karena aku pun tak tahu aku ada dimana. Aku harap kalian puas dengan fakta itu. Jangan pernah mencariku, biarlah aku yang menghilang untuk selamanya. Satu kata sayang untuk kalian semua. Aku butuh doa kalian, berharaplah besok aku masih dapat bernafas di dunia ini. Aku tak mungkin kembali…….” Aku menagis menahan rasa rinduku kepada mereka namun aku telah terlanjur sakit oleh semua perkataan kejam itu. Dan aku tak tahu harus dimanakah aku memihak, apakah rasa rindu ini lebih kuat dari rasa sakit ini?? Aku tak tahu lagi jalan mana yang harus kutempuh untuk mencapai kedamaian walau hanya seorang diri
“…………….”
Dari kegelapan disini aku melihat 3 bayangan yang tampaknya pernah kukenali bayangan itu. Bayangan dua sahabatku dan pria yang mempesona itu datang mencariku. Aku bagai menemukan satu titik terang yang akan mengembalikan senyumku. Namun aku tak berani berjalan untuk lebih dekat kepda mereka, aku tak mau mereka mengetahui keberadaanku karena aku tak mau lagi untuk pulang. Tiba-tiba dari belakangku ada seorang pria yang sedang mabuk yang mengejarku. Kali ini rasa takutku melebihi apapun, apakah pria itu akan membunuhku??? Aku berlari terus ke depan tanpa memperhatikan semua rintangan yang ada. Hingga langkahku terhenti ketika aku menabrak dua sahabatku dan pria itu. Aku pun berusaha lari dari mereka, namun mereka telah menggenggam tanganku. Dan suara lembut pria itu berakata “ Kami mencarimu, pulanglah bersama kami sekarang, semua orang merindukanmu, semua orang mengkhawatirkanmu”Ikatan persahabatan yang sudah begitu kuat itulah yang membuat mereka terus mencariku. Aku merasakan hangat pelukan persahabatan yang telah lama menghilang. Aku tak mampu menahan rasa haru saat ku tatap wajah mereka, mereka adalah warna-warna yang tak henti menghiasi hidupku. Mungkin akan kudapat kehidupanku dulu dan segala ceriaku akan kurasakan bersama dia dan mereka………..
Mia Octavia……
Satu Ikatan Hati ( Karangan Mia Temen Kelasku )
21.32 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar